Mahasiswa Sumbar Antusias Simak Kuliah Umum Rocky Gerung: “Indonesia Krisis Nalar Politik”
Antusiasme Mahasiswa Sumbar Menyambut Kehadiran Rocky Gerung
Suasana kampus di Sumatera Barat tampak berbeda dari biasanya ketika sosok intelektual publik Rocky Gerung dijadwalkan hadir dalam kuliah umum bertajuk “Indonesia Krisis Nalar Politik.” Dari pagi hari, mahasiswa berbagai universitas di Sumbar mulai berdatangan, memenuhi aula besar yang menjadi lokasi acara. Beberapa bahkan datang lebih awal untuk memastikan mendapat tempat duduk yang strategis. Suasana riuh tapi penuh semangat terasa di udara, menunjukkan antusiasme luar biasa dari generasi muda terhadap topik yang sedang hangat diperbincangkan: kondisi nalar politik bangsa.
Fenomena ini menarik untuk disimak. Di tengah era digital yang serba cepat, mahasiswa biasanya distereotipkan sebagai generasi yang lebih tertarik pada isu hiburan atau tren media sosial. Namun, acara ini membantah anggapan itu. Terbukti, ratusan mahasiswa rela meluangkan waktu dan tenaga untuk mendengarkan pandangan seorang filsuf dan pengamat politik yang kerap dikenal karena kritik tajamnya terhadap kebijakan publik dan perilaku elite politik. Mereka tidak hanya datang untuk melihat sosok terkenal, tetapi benar-benar ingin menimba ilmu, memperdalam pemahaman, serta menguji cara berpikir mereka sendiri tentang politik Indonesia.
Kehadiran Rocky Gerung di Sumbar seakan menjadi magnet intelektual. Ia bukan hanya berbicara sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pemantik kesadaran berpikir. Para mahasiswa terlihat mencatat setiap poin penting, menyimak dengan serius setiap kalimat yang dilontarkan, dan sesekali tersenyum ketika Rocky Gerung melemparkan sindiran-sindiran cerdas. Antusiasme ini menandakan bahwa mahasiswa masih memiliki semangat kritis yang tinggi dan keinginan kuat untuk berpartisipasi aktif dalam membangun peradaban politik yang lebih sehat.
Isi Kuliah Umum: Kritik Tajam Terhadap Krisis Nalar Politik

Dalam kuliah umum tersebut, Rocky Gerung membuka paparannya dengan kalimat yang langsung memancing perhatian: “Indonesia tidak sedang kekurangan politisi, tetapi sedang kekurangan nalar.” Kalimat itu seolah menjadi titik pijak seluruh argumennya. Menurut Rocky Gerung, yang terjadi di Indonesia saat ini bukan sekadar krisis ekonomi atau krisis moral, tetapi krisis cara berpikir — khususnya dalam dunia politik. Politik Indonesia, ujarnya, telah bergeser dari pertarungan ide menjadi sekadar adu citra dan sensasi.
Rocky Gerung menjelaskan bahwa nalar politik adalah kemampuan untuk menimbang antara kepentingan publik dan logika moral. Sayangnya, dalam praktik politik kontemporer, logika itu sering kali digantikan oleh kepentingan sesaat. Elite politik sibuk mengatur strategi elektoral, namun abai terhadap substansi kebijakan. Inilah yang membuat publik mudah termakan janji dan terjebak dalam retorika populis. Ia menegaskan bahwa tanpa nalar, demokrasi akan kehilangan arah dan hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan yang kosong makna.
Lebih jauh lagi, Rocky Gerung menyoroti bahwa krisis nalar politik bukan hanya terjadi di kalangan elite, tetapi juga di masyarakat. Media sosial memperparah keadaan karena menciptakan ruang yang penuh dengan bias dan misinformasi. Orang lebih sibuk mencari pembenaran daripada kebenaran. Akibatnya, ruang publik kehilangan kedalaman diskusi dan berubah menjadi arena kebisingan opini. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik, kata Rocky Gerung, harus berani memulihkan fungsi akal sehat di tengah kekacauan wacana publik ini. “Kalau mahasiswa ikut-ikutan berpikir dangkal, maka siapa lagi yang akan menjadi penjaga rasionalitas bangsa?” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah.
Refleksi Mahasiswa: Dari Kekaguman ke Kesadaran
Reaksi mahasiswa Sumbar terhadap kuliah umum ini luar biasa positif. Setelah sesi utama selesai, banyak dari mereka yang berebut untuk mengajukan pertanyaan. Ada yang bertanya tentang bagaimana cara menjaga nalar kritis di tengah tekanan politik kampus, ada pula yang menyinggung tentang bagaimana mahasiswa bisa berperan dalam mengembalikan moralitas politik nasional. Diskusi berjalan dinamis dan penuh semangat, mencerminkan bahwa materi yang disampaikan Rocky Gerung benar-benar menyentuh akar kesadaran intelektual mereka.
Beberapa mahasiswa mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mendengarkan penjelasan Rocky Gerung. Mereka menyadari bahwa krisis politik bukan hanya soal korupsi atau perebutan jabatan, tetapi lebih dalam — menyangkut hilangnya kemampuan berpikir jernih dan objektif di tengah kebisingan informasi. Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik mengatakan, “Selama ini kami hanya melihat politik dari sisi praktisnya, tetapi setelah mendengar Rocky, saya sadar bahwa politik juga adalah soal etika berpikir dan moralitas.”
Tidak hanya berhenti pada kekaguman, sejumlah mahasiswa langsung berinisiatif membentuk komunitas diskusi di kampus mereka. Tujuannya sederhana namun bermakna: melatih diri berpikir kritis, berdiskusi dengan logis, dan belajar menghargai perbedaan pendapat. Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kuliah umum Rocky Gerung tidak berhenti sebagai tontonan intelektual, tetapi telah menyalakan api kesadaran baru di kalangan mahasiswa Sumbar.
Makna “Krisis Nalar Politik” dalam Konteks Indonesia
Istilah “krisis nalar politik” yang diangkat Rocky Gerung memiliki makna mendalam jika ditelaah secara filosofis. Ia tidak hanya merujuk pada kebodohan atau kurangnya pendidikan politik, tetapi juga pada hilangnya keberanian berpikir mandiri. Di Indonesia, banyak keputusan politik diambil berdasarkan tekanan kepentingan atau opini mayoritas, bukan berdasarkan pertimbangan rasional. Dalam konteks ini, “krisis nalar” berarti ketika logika publik dikuasai oleh emosi massa dan kepentingan elit.
Rocky Gerung menekankan bahwa nalar politik seharusnya menjadi fondasi bagi setiap tindakan politik. Ketika seseorang memilih, mendukung kebijakan, atau menolak suatu ide, semua itu harus didasarkan pada penalaran yang logis dan etis. Namun yang terjadi sekarang, kata Rocky, justru sebaliknya. Politik sering kali digerakkan oleh “emosi elektoral” — siapa yang paling populer, bukan siapa yang paling rasional. Hal ini membuat demokrasi kita tampak hidup, tetapi sesungguhnya sedang sekarat secara intelektual.
Dalam pandangan Rocky Gerung, membangun kembali nalar politik tidak bisa dilakukan dengan slogan atau ceramah kosong. Dibutuhkan ekosistem berpikir yang sehat — di kampus, media, dan ruang publik. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor, karena merekalah yang masih memiliki idealisme dan keberanian untuk melawan arus. Pendidikan politik yang berorientasi pada nalar dan etika perlu digalakkan agar bangsa ini tidak terus-menerus terjebak dalam lingkaran retorika tanpa substansi.
Dampak dan Harapan: Menyalakan Kembali Akal Sehat Bangsa
Kuliah umum Rocky Gerung di Sumatera Barat ini bukan sekadar acara akademik rutin, tetapi momentum intelektual yang penting. Ia berhasil menggugah kembali semangat berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Banyak peserta mengaku bahwa kuliah tersebut membuat mereka lebih sadar akan pentingnya menjaga integritas berpikir di tengah dunia yang penuh manipulasi informasi. Mereka melihat bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga bertanggung jawab menjaga warasnya akal publik.
Lebih dari itu, acara ini juga membuka peluang kolaborasi antara kampus dan tokoh-tokoh pemikir nasional untuk menciptakan budaya dialog yang lebih sehat. Dosen dan mahasiswa dapat menjadikan momen ini sebagai inspirasi untuk membangun forum-forum diskusi reguler yang membahas isu-isu aktual dengan pendekatan rasional. Dengan begitu, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga menjadi laboratorium pemikiran yang hidup, tempat melatih kecerdasan moral dan intelektual.
Harapan terbesar dari kuliah umum ini adalah agar mahasiswa tidak hanya berhenti pada kagum terhadap sosok Rocky Gerung, tetapi meneladani cara berpikirnya. Berani mengkritik tanpa membenci, berani berpikir tanpa takut berbeda, dan yang terpenting, berani mempertahankan kebenaran meskipun tidak populer. Jika semangat ini terus tumbuh di kampus-kampus, bukan tidak mungkin, generasi muda Sumbar akan menjadi motor kebangkitan nalar politik di Indonesia.
Penutup: Dari Sumbar untuk Indonesia yang Lebih Bernalar
Kuliah umum “Indonesia Krisis Nalar Politik” menjadi bukti bahwa semangat intelektual masih hidup di tengah arus pragmatisme politik yang melanda bangsa ini. Antusiasme mahasiswa Sumbar adalah tanda bahwa harapan belum padam. Mereka masih percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pikiran — dari kesadaran untuk menggunakan akal secara jernih, logis, dan bermoral.
Rocky Gerung mungkin hanya satu suara, tetapi resonansi pikirannya menyebar luas di kalangan muda. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan nalar akan kehilangan arah. Namun, dengan generasi muda yang berani berpikir kritis dan jujur, masa depan politik Indonesia masih bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, acara ini bukan sekadar kuliah umum, melainkan gerakan kecil menuju kebangkitan akal sehat nasional. Dari Sumatera Barat, pesan itu menggema: bahwa masa depan Indonesia ada di tangan mereka yang berpikir — bukan mereka yang sekadar berbicara.



