Nunuk Suryani Resmi Jabat Dirjen GTK, Begini Perjalanan Karier Guru Besar UNS Solo
Awal Perjalanan: Dari Kampus ke Panggung Nasional
Tidak banyak tokoh pendidikan yang perjalanannya semulus sekaligus sebermakna seperti Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Sosok yang baru saja resmi menjabat sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) ini bukan wajah baru di dunia pendidikan Indonesia. Ia adalah akademisi sejati yang telah menempuh perjalanan panjang, dari ruang kelas kampus hingga ke posisi strategis di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Nunuk Suryani menapaki kariernya di dunia pendidikan dengan tekad kuat sejak muda. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) di bidang Sejarah Indonesia di Universitas Diponegoro (UNDIP). Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membuatnya melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktoral di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dengan fokus pada Teknologi Pendidikan — bidang yang kini menjadi salah satu kunci pembaruan dalam sistem pendidikan modern.
Latar belakang akademis ini menjadikannya sosok yang bukan hanya paham teori, tetapi juga memahami bagaimana teori diterapkan secara praktis di dunia pembelajaran. Kombinasi antara penguasaan materi sejarah, metodologi pendidikan, dan teknologi pembelajaran membuatnya dikenal sebagai akademisi yang “lengkap paketnya.” Tak heran, ia kerap dipercaya menjadi pembicara dalam berbagai forum pendidikan nasional dan internasional.
Menjadi Guru Besar di UNS Solo: Titik Balik yang Menginspirasi

Puncak pengakuan akademik Nunuk Suryani datang pada 19 April 2016, ketika ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Pemanfaatan Media Digital untuk Meningkatkan Kualitas dan Daya Tarik Pembelajaran Sejarah”, ia menegaskan pentingnya transformasi digital dalam dunia pendidikan.
Sebagai guru besar, Nunuk Suryani tidak berhenti hanya pada kegiatan mengajar. Ia aktif melakukan penelitian, menulis buku, serta mengembangkan berbagai program pelatihan bagi guru-guru di Indonesia. Ia percaya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga inovator dan inspirator di kelas. Melalui pendekatan teknologi pembelajaran, ia berusaha mengubah paradigma lama bahwa mengajar hanya tentang menyampaikan materi — melainkan tentang menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan.
Selain berfokus pada akademik, Nunuk Suryani dikenal sebagai sosok yang membangun hubungan humanis dengan mahasiswa dan rekan sejawatnya. Ia tidak hanya dihormati karena kecerdasannya, tetapi juga disegani karena sikap rendah hati dan kemampuannya menginspirasi orang lain. Banyak mahasiswa dan dosen muda di UNS mengaku menjadikan Prof. Nunuk sebagai panutan dalam meniti karier akademik dan menjaga integritas profesional.
Dari Kampus ke Kementerian: Langkah Awal di Dunia Birokrasi Pendidikan
Karier Nunuk Suryani tidak berhenti di kampus. Ketika banyak akademisi memilih bertahan di dunia penelitian dan pengajaran, Nunuk justru melangkah lebih jauh — masuk ke ranah kebijakan publik. Langkah berani ini dimulai ketika ia dipercaya menjadi Kepala Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) pada tahun 2017.
Dalam jabatan tersebut, ia berperan besar dalam merancang pelatihan dan sertifikasi bagi kepala sekolah di seluruh Indonesia. Fokusnya sederhana namun krusial: memastikan bahwa kepemimpinan sekolah di Indonesia memiliki visi yang sejalan dengan semangat Merdeka Belajar. Ia mendorong para kepala sekolah untuk tidak hanya menjadi administrator, tetapi juga pemimpin pembelajaran (instructional leaders) yang mampu menumbuhkan inovasi di sekolah masing-masing.
Setelah itu, pada 2019, ia dipercaya menjadi Kepala Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) di UNS. Pengalaman ini memperluas wawasannya tentang bagaimana kebijakan mutu pendidikan diterapkan secara sistematis di lingkungan perguruan tinggi. Posisi tersebut menjadi batu loncatan penting sebelum akhirnya ia melangkah ke tingkat nasional — menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal GTK Kemendikbudristek pada 2020.
Resmi Jadi Dirjen GTK: Amanah Besar dari Dunia Pendidikan
Pada 22 Februari 2023, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. resmi dilantik oleh Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK). Pelantikan ini menandai tonggak baru dalam perjalanan kariernya — dari seorang pendidik kampus menjadi pengambil kebijakan nasional yang bertanggung jawab langsung terhadap jutaan guru di seluruh Indonesia.
Sebagai Dirjen GTK, tugas yang diemban Nunuk Suryani tidaklah ringan. Ia bertanggung jawab atas pengembangan profesi, peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan di seluruh Tanah Air. Dalam beberapa kesempatan, ia menegaskan bahwa fokus kebijakannya adalah memperkuat kualitas dan profesionalisme guru melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan zaman digital.
Nunuk Suryani juga menyoroti pentingnya pemerataan guru antarwilayah. Menurutnya, masih ada kesenjangan yang cukup besar antara daerah perkotaan dan pedesaan, baik dari segi jumlah maupun kualitas pendidik. Ia berkomitmen mendorong kebijakan afirmatif agar guru di daerah tertinggal juga mendapatkan kesempatan berkembang yang sama dengan guru di kota besar. Dalam hal ini, digitalisasi pendidikan menjadi senjata utamanya.
Sinergi antara Akademisi dan Birokrat: Kekuatan Unik Seorang Nunuk Suryani
Apa yang membuat Nunuk Suryani berbeda dari pejabat pendidikan lain? Jawabannya terletak pada latar belakang akademisnya yang kuat dan pengalamannya langsung di lapangan. Ia bukan sekadar birokrat yang duduk di balik meja — ia adalah akademisi yang memahami seluk-beluk pembelajaran di kelas, dinamika guru, serta kebutuhan peserta didik di berbagai jenjang.
Pendekatan kebijakan yang ia bangun selalu berbasis data dan penelitian. Ia percaya bahwa kebijakan yang baik harus lahir dari pemahaman empiris terhadap kondisi nyata di lapangan. Karena itu, dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Ditjen GTK di bawah kepemimpinannya, selalu ada jejak pemikiran berbasis riset dan pengalaman akademik.
Selain itu, Nunuk Suryani dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang kolaboratif. Ia sering mengajak guru, dosen, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya untuk duduk bersama membahas masalah-masalah strategis. Gaya komunikasi yang terbuka dan empatik ini membuat banyak pihak merasa didengar — sesuatu yang jarang ditemukan dalam dunia birokrasi.
Visi Besar: Membangun Guru Masa Depan Indonesia
Dalam berbagai kesempatan, Prof. Nunuk Suryani menegaskan bahwa masa depan pendidikan Indonesia ditentukan oleh kualitas gurunya. “Tidak ada pendidikan yang hebat tanpa guru yang hebat,” begitu katanya dalam sebuah wawancara di awal masa jabatannya.
Visi besarnya sederhana namun kuat: menjadikan profesi guru sebagai profesi yang dihormati, sejahtera, dan berdaya. Ia ingin mengembalikan semangat guru sebagai agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kurikulum. Untuk itu, ia mendorong berbagai inisiatif — mulai dari peningkatan kompetensi berbasis teknologi, reformasi sistem rekrutmen guru, hingga penguatan pelatihan berkelanjutan (continuous professional development).
Nunuk Suryani juga berkomitmen memperluas akses pelatihan daring agar guru di daerah terpencil tetap bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ia percaya bahwa digitalisasi bukan ancaman bagi guru, melainkan alat yang dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.
Harapan dan Warisan dari Seorang Pendidik Sejati
Perjalanan karier Prof. Nunuk Suryani adalah cermin dari dedikasi, konsistensi, dan cinta terhadap dunia pendidikan. Ia bukan hanya simbol keberhasilan seorang akademisi yang naik ke level kebijakan nasional, tetapi juga bukti bahwa integritas dan kerja keras bisa membawa seseorang menjadi agen perubahan yang nyata.
Harapan besar kini disematkan di pundaknya. Guru dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia menaruh ekspektasi tinggi bahwa di bawah kepemimpinannya, profesi guru akan semakin dihargai — tidak hanya secara moral, tetapi juga secara profesional dan finansial.
Namun, yang membuat sosok Nunuk Suryani istimewa adalah caranya melihat pendidikan sebagai ekosistem. Ia tahu bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, kepala sekolah, pemerintah daerah, hingga masyarakat dalam membangun pendidikan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Penutup: Sosok yang Menginspirasi, Visi yang Membumi
Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. telah menunjukkan bahwa perjalanan panjang dari seorang dosen hingga pejabat tinggi negara bisa dilakukan tanpa kehilangan idealisme. Ia tetap sederhana, tetap membumi, dan tetap menaruh hati pada dunia yang pertama kali membesarkannya — dunia pendidikan.
Kini, dengan posisi sebagai Dirjen GTK, ia tidak hanya membawa nama besar UNS, tetapi juga membawa semangat seluruh guru Indonesia untuk terus maju dan bertransformasi. Perjalanannya menjadi pelajaran penting bahwa pendidikan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup yang penuh makna.
Di tangan sosok seperti Nunuk Suryani, masa depan pendidikan Indonesia patut kita sambut dengan optimisme. Karena jika setiap guru diberdayakan, maka sejatinya seluruh bangsa sedang disiapkan untuk melangkah menuju masa depan yang lebih cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.



