Saham GOTO: Peluang dan Tantangan di Era Ekonomi Digital Indonesia Tahun 2026
Saham GOTO, atau lebih tepatnya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, tetap menjadi salah satu topik paling hangat di kalangan investor saham Indonesia. Sebagai perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia, GOTO bukan sekadar platform ride-hailing atau marketplace biasa. Ia adalah raksasa ekosistem digital yang mengintegrasikan layanan on-demand, e-commerce, hingga fintech dalam satu atap. Di awal tahun 2026 ini, dengan harga saham berkisar di sekitar Rp67 per lembar (per 12 Januari 2026), banyak orang bertanya: apakah ini saatnya masuk atau masih ada risiko besar?
Saya sering bilang, berinvestasi di saham teknologi seperti GOTO itu seperti naik roller coaster – ada adrenalin tinggi, tapi juga butuh perut kuat. Perusahaan ini sudah melewati fase sulit pasca-IPO di 2022, di mana harga saham sempat anjlok drastis karena tekanan valuasi dan kondisi makro. Namun, sekarang GOTO mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kerugian menurun tajam, efisiensi operasional meningkat, dan investor institusional global seperti BlackRock masih setia menambah posisi. Mari kita bahas lebih dalam mengapa “saham GOTO” masih layak jadi perhatian utama di 2026.
Sejarah dan Perkembangan GOTO Hingga 2026

Perjalanan Saham GOTO dimulai dari dua raksasa lokal yang akhirnya bersatu. Gojek, yang lahir pada 2010 sebagai panggilan ojek online, berkembang pesat menjadi super app dengan layanan transportasi, pesan-antar makanan, hingga pengiriman barang. Di sisi lain, Tokopedia sejak 2009 menjadi pionir e-commerce Indonesia yang fokus memberdayakan UMKM melalui marketplace-nya. Merger keduanya pada 2021 menciptakan entitas bernama GoTo Group, yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2022 dengan kapitalisasi pasar awal mencapai ratusan triliun rupiah.
Pasca-IPO, GOTO menghadapi badai besar. Harga saham turun tajam karena investor khawatir dengan burn rate tinggi, kompetisi sengit dari pemain seperti Shopee dan Grab, serta tekanan inflasi global. Tahun 2023 dan 2024 adalah periode restrukturisasi berat: pemangkasan karyawan, divestasi aset non-inti, dan fokus pada profitabilitas. Pada 2025, GOTO akhirnya mencatat adjusted EBITDA positif untuk pertama kalinya, tanda bahwa strategi cost-cutting mulai berbuah. Masuk 2026, perusahaan berada di posisi lebih stabil dengan market cap sekitar Rp70-80 triliun, tergantung fluktuasi harian.
Sekarang, GOTO punya tiga pilar utama: On-Demand Services (Gojek), E-Commerce (Tokopedia), dan Financial Technology (GoTo Financial). Sinergi antar-pilar ini semakin kuat, misalnya pengguna Gojek bisa langsung berbelanja di Tokopedia dan bayar pakai GoPay. Ekosistem ini membuat GOTO sulit ditandingi dalam hal data dan retensi pengguna. Di 2026, dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan terus naik, GOTO punya posisi strategis sebagai proksi utama sektor ini.
Perubahan kepemimpinan juga jadi bagian penting. Mundurnya Patrick Walujo sebagai CEO di akhir 2025 membawa dinamika baru, dengan Hans Patuwo sebagai calon pengganti yang dikenal fokus pada efisiensi dan monetisasi. Langkah ini direspon pasar dengan fluktuasi, tapi secara keseluruhan, investor melihatnya sebagai sinyal positif untuk masa depan yang lebih terarah.
Kinerja Keuangan dan Prospek Saham GOTO di 2026
Mari kita bicara angka, karena ini yang paling penting bagi investor saham. Pada awal 2026, harga saham GOTO bergerak di kisaran Rp66-71 per lembar, dengan volume perdagangan harian yang cukup tinggi. Dalam beberapa hari pertama Januari 2026, saham sempat naik 1-6 poin di pembukaan, meski ada hari stagnan atau sedikit koreksi. Ini menunjukkan volatilitas masih tinggi, tapi tren jangka menengah mulai membaik.
Dari sisi fundamental, GOTO berhasil menekan kerugian secara signifikan. Di 2025, rugi bersih sudah jauh lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan proyeksi 2026 menunjukkan kemungkinan mencapai break-even atau bahkan laba bersih pertama sejak IPO. Adjusted EBITDA positif sejak 2024 menjadi fondasi kuat. Pendapatan dari layanan on-demand dan fintech terus tumbuh, sementara Tokopedia mendapat dorongan dari tren belanja online pasca-pandemi.
Analis dari berbagai sekuritas memberikan target harga rata-rata sekitar Rp87-92 untuk 12 bulan ke depan, dengan range optimis hingga Rp115 dan pesimis di Rp62. Ini berarti potensi upside 30-40% dari level saat ini (Rp67). Banyak yang merekomendasikan “Buy” atau “Strong Buy” karena GOTO dianggap undervalued jika dibandingkan dengan peer regional seperti Grab atau Sea Limited.
Investor institusional global masih bertahan. BlackRock, Vanguard, hingga Credit Agricole terus menambah posisi di akhir 2025 dan awal 2026. Net buy asing di pasar domestik juga mendukung momentum ini. Isu merger dengan Grab yang kembali menguat menjadi katalis potensial besar – jika terealisasi, bisa menciptakan raksasa digital Asia Tenggara yang lebih kuat.
Tapi, prospek ini tak lepas dari risiko. Kompetisi tetap ketat, regulasi pemerintah soal ojek online dan e-commerce bisa berubah, plus ketergantungan pada subsidi driver dan promo untuk mempertahankan GMV. Jika manajemen berhasil menjaga efisiensi sambil meningkatkan monetisasi, 2026 bisa jadi tahun turning point bagi GOTO.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Saham GOTO
Tak bisa dipungkiri, saham GOTO sangat sensitif terhadap faktor makro. Ekonomi digital Indonesia diprediksi tumbuh double-digit di 2026, didorong penetrasi internet, smartphone murah, dan inklusi keuangan. Pemerintah juga mendukung melalui berbagai kebijakan, meski regulasi baru seperti Perpres tentang ojek online sedang disempurnakan.
Sentimen global juga berpengaruh. Ketika suku bunga tinggi di AS turun, dana asing cenderung masuk ke emerging market seperti Indonesia, termasuk saham teknologi. Di awal 2026, kita sudah melihat arus masuk dana asing yang positif, yang membantu saham GOTO menguat.
Isu merger Grab-GOTO jadi topik panas. Banyak analis melihat ini sebagai win-win: konsolidasi pasar, efisiensi biaya, dan valuasi lebih tinggi. Bos Danantara bahkan menyebut merger ini sebagai sinyal positif. Namun, prosesnya rumit karena melibatkan antitrust dan persetujuan regulator.
Selain itu, fluktuasi harga minyak, inflasi, dan nilai tukar rupiah juga memengaruhi. Bensin mahal bisa menekan margin Gojek, sementara rupiah melemah membuat biaya server atau pinjaman dolar lebih mahal. Investor jangka panjang harus siap dengan volatilitas ini, tapi melihat fundamental yang membaik, GOTO tetap punya cerita menarik.
Kesimpulan
Saham GOTO di 2026 bukan lagi tentang hype IPO, melainkan tentang eksekusi dan profitabilitas. Perusahaan telah melewati fase survival dan sekarang fokus pada growth yang berkelanjutan. Dengan ekosistem kuat, basis pengguna masif, dan dukungan investor besar, GOTO berpotensi menjadi salah satu pemenang di ekonomi digital Indonesia. Tentu saja, risiko tetap ada – volatilitas tinggi, kompetisi, dan ketidakpastian regulasi. Bagi investor yang sabar dan punya horizon jangka panjang, GOTO bisa jadi bagian penting dari portofolio.
Saya sarankan: lakukan riset mendalam, pantau laporan keuangan kuartalan (selanjutnya Maret 2026), dan jangan all-in di satu saham. Investasi selalu punya risiko, tapi dengan strategi tepat, saham GOTO bisa memberikan return yang menyenangkan di tahun-tahun mendatang. Selamat berinvestasi, dan tetap update berita terbaru!
(FAQs) Tentang Saham GOTO
1.) Apa itu saham GOTO dan perusahaan apa yang berada di belakangnya?
Saham GOTO adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, perusahaan hasil merger Gojek (layanan on-demand) dan Tokopedia (e-commerce), plus divisi fintech GoTo Financial. Ini adalah salah satu ekosistem digital terbesar di Indonesia.
2.) Berapa harga saham GOTO saat ini di Januari 2026?
Pada 12 Januari 2026, harga saham GOTO berada di sekitar Rp67 per lembar, dengan fluktuasi harian antara Rp66-71 tergantung sesi perdagangan.
3.) Apakah saham GOTO prospektif untuk investasi jangka panjang di 2026?
Ya, prospeknya cukup menarik karena kerugian menurun, EBITDA positif, dan potensi merger dengan Grab. Target harga analis rata-rata Rp87-92, tapi tetap ada risiko volatilitas dan kompetisi.
4.) Apa risiko utama dalam berinvestasi saham GOTO?
Risiko utama termasuk persaingan ketat dari Shopee/Grab, perubahan regulasi pemerintah, fluktuasi makroekonomi, dan kemungkinan masih rugi bersih di beberapa kuartal ke depan.
5.) Apakah ada isu merger antara GOTO dan Grab di 2026?
Ya, isu merger kembali menguat di awal 2026 dan dianggap sinyal positif oleh banyak pihak, meski belum ada kepastian resmi. Jika terealisasi, bisa meningkatkan valuasi saham secara signifikan.