Ethan Mbappe: Bintang Muda yang Siap Keluar dari Bayang-Bayang Sang Kakak
Ethan Mbappe Dalam dunia sepak bola, nama Mbappé sudah menjadi simbol kecepatan, teknik tinggi, dan kesuksesan sejak Kylian Mbappé menembus panggung dunia. Namun, kini perhatian mulai beralih pada sosok muda lain dari keluarga yang sama: Ethan Mbappé. Meskipun masih sangat muda, Ethan Mbappe telah menunjukkan potensi besar untuk menjadi bintang masa depan. Artikel ini akan mengulas perjalanan kariernya, kepribadian di lapangan, hingga bagaimana ia berusaha membangun identitasnya sendiri — terlepas dari nama besar sang kakak.
Awal Kehidupan dan Latar Belakang: Tumbuh di Lingkungan Sepak Bola
Ethan Mbappe lahir pada 29 Desember 2006 di Montreuil, pinggiran kota Paris, Prancis. Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan olahraga, terutama sepak bola. Sang ayah, Wilfrid Mbappé, adalah mantan pelatih dan pemain amatir yang sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola, sementara sang ibu, Fayza Lamari, merupakan mantan pemain handball profesional. Jadi, bisa dibilang darah atlet sudah mengalir kental dalam diri Ethan Mbappe sejak lahir.
Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, masa kecil Ethan Mbappe sudah diwarnai dengan bola di kakinya. Ia bermain sepak bola di halaman rumah, di sekolah, dan tentu saja bersama kakaknya, Kylian Mbappé, yang saat itu sudah menunjukkan bakat luar biasa. Meskipun tumbuh di bawah bayang-bayang Kylian, Ethan Mbappe tidak terlihat tertekan. Justru ia belajar banyak — baik tentang teknik, kedisiplinan, maupun etika profesional seorang pesepak bola.
Salah satu hal menarik dari Ethan Mbappe adalah karakternya yang tenang. Banyak pelatih di akademi mengatakan bahwa Ethan Mbappe berbeda dari Kylian yang ekspresif dan agresif di lapangan. Ethan justru tampil lebih kalem, lebih berpikir, dan cenderung menganalisis permainan sebelum bertindak. Hal ini membuatnya sejak muda dikenal sebagai pemain dengan “kepala dingin” — kualitas yang sangat langka di usia belasan tahun.
Perjalanan Karier: Dari Akademi ke Profesional

Karier sepak bola Ethan Mbappe dimulai di AS Bondy, klub kecil tempat Kylian juga meniti karier. Di sinilah ia mulai mengenal dasar-dasar permainan secara serius. Setelah menunjukkan bakat menjanjikan, Ethan direkrut oleh akademi Paris Saint-Germain (PSG) pada tahun 2017 — langkah besar untuk seorang anak berusia 10 tahun.
Masuk ke akademi PSG tentu bukan hal mudah. Persaingan sangat ketat, terutama karena banyak anak muda dari seluruh Prancis bermimpi bisa berada di sana. Namun Ethan Mbappe berhasil menonjol berkat kecerdasannya dalam membaca permainan dan kemampuannya menjaga bola. Pelatihnya di akademi bahkan menyebut Ethan sebagai “gelandang muda dengan insting alami mengatur tempo”.
Setelah beberapa tahun berkembang di akademi, Ethan Mbappe akhirnya mencatatkan debut profesional bersama tim senior PSG pada Desember 2023 saat melawan Metz di Ligue 1. Meskipun hanya bermain beberapa menit, itu adalah momen penting dalam hidupnya — sebuah bukti nyata dari kerja keras bertahun-tahun. Banyak media menyoroti debut tersebut, bukan hanya karena namanya “Mbappé”, tetapi karena performanya yang tenang dan percaya diri di tengah tekanan besar.
Namun, kesempatan bermain di tim utama PSG masih terbatas. Maka pada pertengahan 2024, Ethan Mbappe mengambil langkah berani: meninggalkan PSG dan menandatangani kontrak profesional dengan LOSC Lille hingga tahun 2027. Keputusan ini bukan sekadar perpindahan klub, melainkan pernyataan bahwa ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, membangun karier tanpa selalu dibandingkan dengan sang kakak.
Gaya Bermain: Cerdas, Efisien, dan Elegan
Berbeda dengan Kylian yang berposisi sebagai penyerang cepat, Ethan Mbappe adalah seorang gelandang tengah. Ia lebih suka mengatur alur permainan ketimbang melakukan penetrasi langsung. Ethan dikenal sebagai pemain berkaki kiri dominan dengan kemampuan distribusi bola yang luar biasa.
Salah satu keunggulan utamanya adalah visi permainan. Ia mampu melihat celah di antara lini lawan dan mengirimkan umpan yang memecah pertahanan. Selain itu, kontrol bolanya sangat halus — membuatnya sulit direbut oleh lawan meskipun tubuhnya belum sekuat pemain senior. Banyak pengamat menyebut gaya main Ethan Mbappe mengingatkan pada sosok seperti Marco Verratti atau Thiago Alcântara — pemain yang tidak selalu mencetak gol, tapi punya pengaruh besar terhadap ritme permainan.
Ethan Mbappe juga dikenal disiplin dalam bertahan. Ia mampu menutup ruang dengan cepat, membaca arah serangan lawan, dan membantu tim dalam transisi. Pelatih Lille memujinya sebagai pemain muda yang “berpikir seperti pemain berusia 25 tahun”. Meskipun masih perlu meningkatkan aspek fisik dan agresivitas, kematangannya dalam mengambil keputusan sudah di atas rata-rata pemain seusianya.
Yang membuat Ethan Mbappe menarik adalah kesederhanaannya. Ia tidak berusaha mencuri sorotan atau membuat selebrasi berlebihan. Dalam wawancara, ia pernah mengatakan:
Ucapan sederhana ini memperlihatkan mentalitas matang yang jarang dimiliki pemain muda.
Tantangan dan Tekanan: Beratnya Hidup Sebagai “Adik Kylian”
Tak bisa dipungkiri, nama keluarga Mbappé membawa keuntungan sekaligus beban. Di satu sisi, Ethan Mbappe mendapatkan perhatian besar dari media dan kemudahan akses ke fasilitas terbaik. Tapi di sisi lain, tekanan untuk membuktikan diri jauh lebih besar. Setiap kali ia bermain, orang-orang selalu membandingkan dengan kakaknya.
Hal ini membuat Ethan Mbappe harus memiliki mental baja. Banyak pemain muda gagal berkembang karena tekanan ekspektasi yang berlebihan. Namun, sejauh ini Ethan Mbappe menunjukkan kedewasaan luar biasa. Ia jarang menanggapi komentar negatif dan lebih fokus pada peningkatan performanya sendiri.
Selain tekanan media, Ethan Mbappe juga menghadapi tantangan fisik. Ia masih dalam tahap pertumbuhan, dan harus menyesuaikan diri dengan intensitas tinggi di level profesional. Liga Prancis bukan tempat yang mudah bagi pemain muda — permainan cepat, kontak fisik keras, dan tekanan fans bisa sangat melelahkan. Tapi justru di sinilah ketangguhan Ethan Mbappe diuji.
Di luar lapangan, ia dikenal pendiam dan rendah hati. Berbeda dari kebanyakan pemain muda yang aktif di media sosial, Ethan Mbappe jarang membagikan kehidupan pribadinya. Ia lebih memilih berlatih dan belajar dari rekan-rekannya. Sikap inilah yang membuat banyak pelatih percaya bahwa masa depannya cerah.
Masa Depan: Dari Lille Menuju Dunia
Kini bersama Lille, Ethan Mbappé mulai mendapatkan menit bermain lebih banyak. Klub ini terkenal sebagai tempat berkembangnya talenta muda, seperti Eden Hazard dan Victor Osimhen. Lingkungan yang lebih tenang dibanding PSG memungkinkan Ethan Mbappe bermain tanpa tekanan besar.
Jika ia terus berkembang, bukan tidak mungkin Ethan Mbappe akan menjadi pemain andalan Lille dalam beberapa tahun ke depan — atau bahkan pindah ke klub besar Eropa. Dengan gaya bermainnya yang elegan dan pemahaman taktik tinggi, ia punya potensi besar untuk menjadi gelandang modern yang dibutuhkan banyak tim.
Selain itu, masa depannya di tim nasional Prancis juga sangat terbuka. Federasi Prancis dikenal gemar memberikan kesempatan kepada pemain muda berbakat. Jika performanya terus meningkat, kita mungkin akan melihat duet Kylian dan Ethan Mbappé mengenakan seragam Les Bleus — bukan sekadar kisah dua bersaudara, tetapi simbol regenerasi sepak bola Prancis.
Namun, Ethan tampak tidak terburu-buru. Ia sering mengatakan bahwa fokusnya saat ini adalah bermain dengan konsisten, belajar, dan menikmati prosesnya. Dalam dunia sepak bola yang penuh tekanan, sikap seperti itu justru bisa menjadi kekuatan utama.
Kesimpulan: Ethan Mbappé, Bukan Sekadar Nama Besar
Ethan Mbappé adalah contoh nyata bahwa talenta sejati selalu menemukan jalannya sendiri. Ia lahir dari keluarga yang sama dengan salah satu pemain terbaik dunia, tapi tidak mencoba meniru. Ia memilih jalannya sendiri — sebagai gelandang yang cerdas, tenang, dan memiliki pemahaman mendalam tentang permainan.
Perjalanannya dari akademi PSG, debut profesional, hingga keputusan pindah ke Lille menunjukkan kedewasaan dan visi jangka panjang. Ethan tahu bahwa karier hebat tidak dibangun dalam semalam. Dengan kerja keras, kerendahan hati, dan komitmen tinggi, masa depan sepak bola Prancis tampaknya akan kembali disinari oleh nama Mbappé — kali ini bukan Kylian, tapi Ethan.



