Piala Raja Arab Saudi: Turnamen Klasik yang Tetap Memikat Hati Penggemar Sepak Bola
Piala Raja Arab Saudi, atau yang secara resmi dikenal sebagai Piala Penjaga Dua Masjid Suci (King’s Cup atau Custodian of the Two Holy Mosques Cup), merupakan salah satu kompetisi sepak bola tertua dan paling bergengsi di Timur Tengah. Turnamen knockout ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Arab Saudi sejak pertama kali digelar pada tahun 1957. Bagi para pecinta bola di Indonesia maupun di seluruh dunia, “Piala Raja Arab Saudi” sering menjadi kata kunci pencarian ketika ingin mengikuti drama pertandingan cup yang penuh kejutan. Meski liga domestik Saudi Pro League kini mendominasi perhatian berkat kehadiran bintang-bintang dunia, Piala Raja Arab Saudi tetap menawarkan pesona tersendiri dengan formatnya yang memungkinkan tim underdog menantang raksasa.
Di era modern ini, turnamen ini tidak hanya soal trofi, tapi juga prestise nasional dan hadiah fantastis mencapai 10 juta riyal Saudi untuk sang juara. Mari kita telusuri lebih dalam mengapa kompetisi ini begitu spesial, mulai dari akar sejarahnya hingga perkembangan terkini.
Sejarah Panjang Piala Raja Arab Saudi
Piala Raja Arab Saudi lahir pada masa pemerintahan Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud di tahun 1957. Saat itu, kompetisi ini bernama His Majesty the King’s Cup dan diikuti oleh klub-klub terbaik dari berbagai wilayah di Kerajaan. Al-Wahda FC dari Makkah menjadi juara perdana setelah mengalahkan Al-Ittihad dengan skor meyakinkan 4-0 di final. Kemenangan ini langsung menandai awal dominasi klub-klub besar seperti Al-Ittihad, yang kemudian memenangkan tiga edisi berturut-turut pada 1958, 1959, dan 1960. Era awal ini penuh dengan pertandingan sengit yang memperlihatkan betapa sepak bola sudah menjadi bagian penting dari budaya Saudi.
Turnamen sempat mengalami pasang surut. Pada periode 1970 hingga 1975, kompetisi tidak digelar karena berbagai alasan administratif dan reorganisasi federasi sepak bola. Namun, ketika kembali pada akhir 1970-an dan 1980-an, Piala Raja Arab Saudi mulai menunjukkan identitasnya sebagai ajang knockout yang tak terduga. Al-Ahli, Al-Hilal, dan Al-Ittihad bergantian menjadi juara, menciptakan rivalitas abadi yang masih terasa hingga sekarang. Al-Ahli misalnya, mencatatkan rekor sebagai klub tersukses dengan total 13 gelar hingga era terkini, sementara Al-Hilal mengejar ketat dengan 10-11 gelar tergantung update terbaru.
Pada 1990, turnamen lagi-lagi terhenti hingga 2007 karena perubahan prioritas federasi yang lebih fokus pada liga domestik. Kebangkitan kembali terjadi pada 2008 dengan nama baru King Cup of Champions, yang awalnya hanya melibatkan enam tim teratas liga. Format ini lebih elit, tapi kurang inklusif. Barulah pada 2014, kompetisi dikembalikan ke format asli yang lebih luas, melibatkan lebih banyak tim dari berbagai divisi, termasuk klub dari liga divisi dua dan tiga. Perubahan ini membawa angin segar, karena memberi kesempatan bagi tim kecil untuk menciptakan kejutan besar melawan raksasa seperti Al-Nassr atau Al-Hilal.
Sejarah panjang ini membuat Piala Raja Arab Saudi bukan sekadar turnamen cup biasa. Ia mencerminkan evolusi sepak bola Saudi dari era tradisional hingga era profesional modern yang dipenuhi investasi besar. Banyak legenda sepak bola Saudi seperti Majed Abdullah atau Yasser Al-Qahtani pernah mengangkat trofi ini, menambah nilai emosional bagi para penggemar.
Format dan Aturan Terkini Kompetisi

Format Piala Raja Arab Saudi saat ini mengikuti model knockout klasik yang mirip dengan Piala FA di Inggris atau Copa del Rey di Spanyol. Kompetisi dimulai dari babak awal dengan partisipasi puluhan tim, termasuk klub dari Saudi Pro League, First Division League, dan bahkan Second Division. Jumlah tim peserta biasanya mencapai lebih dari 50, tapi hanya 16 tim yang lolos ke babak utama setelah melewati kualifikasi regional atau play-off.
Pertandingan digelar dalam format single-elimination, artinya satu kekalahan langsung mengeliminasi tim. Hingga babak perempat final, laga biasanya berlangsung satu leg saja di kandang salah satu tim (dengan undian menentukan tuan rumah). Mulai semifinal, format berubah menjadi dua leg (kandang dan tandang), yang membuat strategi lebih kompleks karena tim harus memikirkan agregat skor. Final biasanya digelar di stadion netral megah seperti King Abdullah Sports City di Jeddah atau Stadion Universitas King Saud di Riyadh, sering disaksikan langsung oleh pejabat tinggi negara.
Satu hal menarik adalah aturan trofi permanen. Jika sebuah tim memenangkan Piala Raja Arab Saudi tiga kali berturut-turut atau empat kali secara terpisah, mereka berhak menyimpan trofi asli secara permanen. Inilah yang terjadi beberapa kali, sehingga desain trofi baru diperkenalkan. Trofi terkini terbuat dari perak murni 925 dilapisi emas 24 karat, dengan berat sekitar 9,32 kg—angka yang melambangkan tahun penyatuan Kerajaan Saudi pada 1932. Desainnya terinspirasi dari tradisi Islam dan sejarah Saudi, membuatnya menjadi salah satu trofi cup termewah di dunia sepak bola.
Hadiah uang juga tidak main-main: juara mendapatkan 10 juta riyal Saudi (sekitar Rp 40 miliar lebih), sementara runner-up dan semifinalis juga mendapat porsi signifikan. Aturan ini mendorong semua tim, bahkan yang kecil, untuk tampil maksimal karena selain prestise, ada insentif finansial besar. Format ini juga memungkinkan kejutan, seperti ketika tim divisi bawah berhasil melaju jauh dan mencuri perhatian media internasional.
Tim-Tim Dominan dan Rekor Menarik
Ketika bicara dominasi di Piala Raja Arab Saudi, tiga nama besar selalu muncul: Al-Ahli, Al-Hilal, dan Al-Ittihad. Al-Ahli memimpin daftar juara dengan 13 gelar, termasuk beberapa kemenangan di era 1960-an dan 2000-an. Klub dari Jeddah ini dikenal dengan permainan menyerang indah dan memiliki basis suporter fanatik. Al-Hilal, dengan sekitar 10-11 gelar, sering disebut sebagai “raja” sepak bola Saudi secara keseluruhan berkat konsistensi mereka di liga dan cup. Mereka kerap memenangkan double atau treble di musim yang sama.
Al-Ittihad tidak kalah impresif dengan 9-10 gelar, termasuk tiga kali beruntun di akhir 1950-an. Klub ini juga dikenal sebagai pemilik rekor kemenangan telak di final masa lalu. Al-Nassr, yang kini menjadi sorotan dunia berkat Cristiano Ronaldo, memiliki 6 gelar dan terus mengejar untuk menambah koleksi. Klub lain seperti Al-Shabab (3 gelar), Al-Wehda (2 gelar), dan Al-Ettifaq (2 gelar) juga pernah menjadi juara, membuktikan bahwa kompetisi ini tidak selalu didominasi oleh “Big Three”.
Beberapa rekor menarik patut disebut. Misalnya, final dengan skor terbesar terjadi pada era awal ketika Al-Ittihad sering menang dengan margin besar. Ada juga momen ketika tim kecil seperti Al-Taawoun atau Al-Fayha berhasil mengangkat trofi, menciptakan cerita inspiratif. Di era modern, kehadiran pemain asing berkelas seperti Karim Benzema di Al-Ittihad atau Neymar di Al-Hilal membuat pertandingan cup semakin spektakuler, dengan gol-gol indah dan drama penalti yang tak terlupakan.
Rivalitas antar klub dalam Piala Raja sering lebih panas daripada di liga, karena satu pertandingan saja bisa mengakhiri mimpi. Banyak penggemar menganggap kemenangan di final Piala Raja Arab Saudi lebih bermakna daripada gelar liga, karena melibatkan perjuangan panjang melalui banyak laga knockout.
Dampak Piala Raja bagi Sepak Bola Saudi dan Internasional
Piala Raja Arab Saudi bukan hanya turnamen domestik; ia memiliki dampak luas terhadap perkembangan sepak bola di Kerajaan. Kompetisi ini menjadi ajang pembuktian bagi pemain muda dari akademi klub-klub besar. Banyak talenta Saudi yang pertama kali bersinar di Piala Raja Arab Saudi sebelum naik ke timnas atau bahkan ke Eropa. Selain itu, format inklusifnya membantu klub dari kota kecil untuk mendapatkan eksposur, meningkatkan standar sepak bola secara nasional.
Di tingkat internasional, Piala Raja Arab Saudi semakin menarik perhatian setelah Saudi Pro League mendatangkan superstar dunia. Pertandingan cup kini sering disiarkan secara global, terutama ketika melibatkan Al-Nassr Ronaldo atau Al-Hilal Neymar. Ini membantu promosi sepak bola Saudi menuju Piala Dunia 2034 yang akan mereka tuan rumahi. Kemenangan di Piala Raja Arab Saudi juga memberikan tiket otomatis ke kompetisi lain, seperti Saudi Super Cup atau bahkan kualifikasi kontinental.
Secara ekonomi, turnamen ini mendatangkan pendapatan melalui hak siar, sponsor, dan tiket. Stadion selalu penuh di babak akhir, menciptakan atmosfer mirip final Piala Dunia. Bagi penggemar, Piala Raja Arab Saudi adalah momen nostalgia sekaligus harapan baru—di mana mimpi bisa menjadi kenyataan meski menghadapi tim terkaya sekalipun.
Kesimpulan
Piala Raja Arab Saudi tetap menjadi salah satu kompetisi paling menarik di dunia sepak bola modern. Dengan sejarah hampir 70 tahun, format knockout yang dramatis, dan partisipasi tim dari berbagai level, turnamen ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemui di liga-liga top Eropa: kesempatan bagi siapa saja untuk menulis sejarah. Meski era bintang dunia mendominasi headline, esensi Piala Raja Arab Saudi tetap sama—sepak bola murni, penuh gairah, dan tak terduga. Bagi penggemar, setiap edisi adalah bab baru dalam kisah panjang sepak bola Saudi yang kaya akan tradisi dan ambisi masa depan.
Jika Anda pecinta bola yang suka drama cup, pantau terus Piala Raja Arab Saudi. Siapa tahu, edisi berikutnya akan melahirkan kejutan baru yang akan dikenang selamanya.
(FAQs) Tentang Piala Raja Arab Saudi
1.) Apa nama resmi Piala Raja Arab Saudi saat ini?
Nama resmi saat ini adalah Piala Penjaga Dua Masjid Suci (Custodian of the Two Holy Mosques Cup), meskipun sering disebut King’s Cup atau Piala Raja.
2.) Klub mana yang paling banyak memenangkan Piala Raja Arab Saudi?
Al-Ahli adalah klub tersukses dengan 13 gelar, diikuti Al-Hilal dengan sekitar 10-11 gelar, dan Al-Ittihad dengan 9-10 gelar.
3.) Kapan Piala Raja Arab Saudi pertama kali digelar?
Kompetisi ini pertama kali digelar pada tahun 1957, dengan Al-Wahda FC menjadi juara perdana setelah mengalahkan Al-Ittihad.
4.) Apa format pertandingan di babak semifinal dan final Piala Raja?
Semifinal menggunakan format dua leg (kandang dan tandang) dengan agregat skor, sedangkan final digelar satu pertandingan di stadion netral.
5.) Berapa hadiah uang untuk juara Piala Raja Arab Saudi?
Juara mendapatkan hadiah 10 juta riyal Saudi, ditambah trofi, medali emas, dan gelar kehormatan sebagai juara Piala Penjaga Dua Masjid Suci.



