Rachmi Aziah: Pewaris Setia Legasi Musik Ismail Marzuki
Pengenalan: Siapa Rachmi Aziah?
Rachmi Aziah, nama yang mungkin tidak sepopuler ayah angkatnya, Ismail Marzuki, tapi dia adalah sosok penting dalam menjaga warisan musik nasional Indonesia. Sebagai anak tunggal dan pewaris hak cipta karya-karya Ismail Marzuki, Rachmi hidup dalam bayang-bayang legenda ayahnya yang dikenal sebagai komponis pahlawan nasional. Lahir dari keluarga sederhana, Rachmi diadopsi oleh Ismail dan istrinya, Eulis Zuraidah, saat usianya baru dua bulan. Adopsi ini datang dari saudara Eulis, karena pasangan itu tak kunjung dikaruniai anak biologis setelah pernikahan panjang mereka pada 1940. Rachmi tumbuh menjadi perempuan yang tangguh, meski hidupnya penuh liku-liku, dari masa kecil yang bahagia tapi singkat bersama ayahnya hingga perjuangan menjaga hak moral atas lagu-lagu ikonik seperti “Halo-Halo Bandung” dan “Rayuan Pulau Kelapa”.
Dalam konteks sejarah musik Indonesia, Rachmi Aziah bukan sekadar pewaris, tapi juga penjaga api semangat perjuangan yang diwariskan Ismail Marzuki. Ayahnya, yang lahir di Kwitang, Jakarta, pada 1914, menciptakan ratusan lagu antara 1931 hingga 1958, termasuk karya-karya patriotik yang membangkitkan semangat kemerdekaan. Rachmi, yang lahir sekitar 1950-an, menjadi jembatan antara generasi lama dan baru. Meski tak terjun ke dunia musik seperti ayahnya—bahkan dilarang oleh Ismail sendiri—dia aktif mempertahankan integritas karya ayahnya dari penyalahgunaan. Pada 2023, misalnya, Rachmi protes keras saat lagu “Halo-Halo Bandung” diubah menjadi “Hello Kuala Lumpur” tanpa izin, menunjukkan dedikasinya sebagai ahli waris.
Hidup Rachmi Aziah mencerminkan kontras antara kemasyhuran ayahnya dan kesederhanaan dirinya. Di usia 74 tahun sebelum meninggal, dia tinggal di rumah sederhana di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, jauh dari gemerlap industri hiburan. Meski mewarisi hak cipta atas sekitar 200-240 lagu, royalti yang diterimanya tak seberapa, membuatnya harus berjuang hidup dengan cara biasa. Kisahnya mengingatkan kita bahwa di balik lagu-lagu nasional yang sering kita nyanyikan, ada cerita manusiawi tentang keluarga dan perjuangan. Rachmi bukan hanya nama, tapi simbol ketabahan dalam menjaga warisan budaya Indonesia.
Masa Kecil dan Hubungan dengan Ismail Marzuki

Masa kecil Rachmi Aziah dipenuhi kenangan manis bersama Ismail Marzuki, meski hanya berlangsung delapan tahun hingga ayah angkatnya wafat pada 1958. Rachmi mengenang Ismail sebagai ayah yang tegas tapi penuh kasih sayang, yang memperlakukannya seperti anak kandung. Ismail, yang dikenal sebagai “Bang Ma’ing” di kalangan seniman, sering memasak masakan Betawi sederhana seperti sayur asem, ikan asin, tempe, dan tahu saat libur. Ini menjadi momen kebersamaan keluarga, di mana Ismail menunjukkan sisi lembutnya di tengah kesibukan mencipta lagu. Rachmi kecil sering diajak jalan-jalan, termasuk ke Pasar Gambir di Jakarta Pusat, yang menginspirasi Ismail menciptakan karya seperti “Kr. Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang”.
Hubungan ayah-anak ini tak lepas dari larangan Ismail agar Rachmi tak menjadi musisi. Rachmi tak pernah paham alasan pasti di balik itu, tapi dia patuh. Saat berusia 10-12 tahun, Rachmi pernah diam-diam bermain band dengan teman-temannya setelah sekolah, tapi Eulis, ibunya, marah besar dan bahkan memukulnya jika ketahuan. Ini menunjukkan betapa ketat pendidikan di rumah mereka, yang dipengaruhi nilai-nilai disiplin Ismail sebagai pejuang kemerdekaan. Ismail, yang aktif di era perlawanan Jepang dan Belanda, ingin Rachmi fokus pada pendidikan dan kehidupan stabil, bukan dunia seni yang penuh tantangan seperti yang dia alami sendiri.
Setelah Ismail meninggal, Rachmi lebih banyak belajar tentang ayahnya dari cerita Eulis. Eulis sering menceritakan “Aa” (panggilan Ismail) sebagai sosok bertanggung jawab yang meninggalkan pesan untuk merawat Rachmi dengan baik. Kenangan ini membentuk karakter Rachmi menjadi perempuan mandiri. Di usia dewasa, dia sering berbagi cerita ini dalam wawancara, seperti pada 2018 saat dia sudah punya sepuluh cucu. Masa kecilnya, meski singkat, menjadi fondasi nilai-nilai patriotisme yang dia wariskan ke generasi selanjutnya, mengingatkan kita bahwa di balik maestro besar, ada keluarga kecil yang penuh cerita hangat.
Warisan dan Tantangan Royalti
Sebagai pewaris tunggal, Rachmi Aziah mewarisi hak cipta atas ratusan karya Ismail Marzuki, tapi ini tak selalu membawa kemudahan. Royalti dari lagu-lagu seperti “Indonesia Pusaka” dan “Sepasang Mata Bola” seharusnya menjadi sumber penghidupan, tapi realitasnya jauh dari glamor. Rachmi sering mengeluhkan royalti yang minim, bahkan pernah ditipu oleh orang dekat yang meminjam izin atas nama karya ayahnya tapi tak membayar dengan benar. Pada 2021, dia berbagi kisah pilu ini, di mana orang yang dipercaya justru menyalahgunakan kepercayaan, meninggalkan Rachmi dalam kesulitan finansial.
Tantangan ini mencerminkan masalah lebih luas di industri musik Indonesia, di mana hak cipta sering diabaikan. Rachmi aktif memperjuangkan hak moral ayahnya, seperti pada 2023 ketika dia meminta konten “Hello Kuala Lumpur”—versi modifikasi dari “Halo-Halo Bandung”—dihapus dari YouTube. Bersama pemerintah Indonesia, dia menegaskan bahwa perubahan lirik tanpa izin melanggar hak cipta. Ini bukan sekadar urusan uang, tapi menjaga integritas karya Ismail sebagai simbol perjuangan nasional. Rachmi melihat lagu-lagu itu sebagai bagian dari sejarah Indonesia, bukan komoditas sembarangan.
Meski begitu, Rachmi tetap rendah hati dalam mengelola warisan ini. Dia tak pernah mengeksploitasi nama ayahnya untuk keuntungan pribadi berlebih. Pada 2018, saat diwawancarai, dia bilang royalti hanya cukup untuk hidup sederhana, tapi dia bangga bisa menjaga nama Ismail Marzuki tetap hidup. Kisahnya mengajarkan kita tentang pentingnya perlindungan hak intelektual di Indonesia, di mana banyak seniman besar seperti Ismail meninggalkan warisan tapi keluarganya berjuang. Rachmi menjadi contoh bagaimana pewaris bisa tetap setia tanpa terjebak materialisme.
Kehidupan Pribadi dan Perjuangan

Kehidupan pribadi Rachmi Aziah penuh perjuangan, kontras dengan kemasyhuran ayahnya. Setelah Ismail meninggal, Rachmi dibesarkan Eulis di rumah sederhana. Dia menikah dan punya keluarga besar, dengan sepuluh cucu pada 2018. Tapi kesehatan menjadi tantangan; pada 2011, Rachmi mengalami serangan jantung saat tinggal di Perumahan Bappenas, Sawangan, Depok. Ini membuatnya lebih fokus pada kesehatan dan keluarga, meski hidup tetap sederhana. Rachmi pernah berjualan minuman untuk menambah penghasilan, menunjukkan ketangguhannya di tengah royalti yang tak stabil.
Perjuangan finansial ini tak membuat Rachmi pahit. Dia aktif dalam kegiatan sosial terkait musik, seperti mendukung pembuatan film tentang Ismail Marzuki. Pada 2021, dalam sebuah video, Rachmi menyampaikan harapan besar agar film itu bisa mengabadikan perjuangan ayahnya sebagai komponis pejuang. Ini menunjukkan sisi visionernya, ingin generasi muda mengenal Ismail tak hanya lewat lagu, tapi juga cerita hidup. Rachmi juga terlibat dalam komunitas seni, meski tak menjadi musisi, membuktikan bahwa darah seni ayahnya mengalir dalam bentuk lain.
Di akhir hayatnya, Rachmi tinggal di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, menjalani hari-hari tenang tapi penuh makna. Kisah pilunya, dari ditipu royalti hingga berjualan, menjadi inspirasi tentang ketabahan. Rachmi mengajarkan bahwa hidup tak selalu adil, tapi dedikasi pada warisan keluarga bisa menjadi kekuatan. Pada usia 70-an, dia tetap optimis, berbagi cerita dengan media untuk menjaga nama Ismail Marzuki tetap relevan di era digital.
Kematian dan Warisan Abadi
Rachmi Aziah meninggal dunia pada 11 Mei 2025, di rumahnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh pengamat musik Stanley Tulung melalui Instagram, dengan doa agar Rachmi tenang di sisi Yang Maha Kuasa. Pemakamannya dilakukan di TPU Petir, Depok, sekitar pukul 10.00 WIB, dihadiri keluarga dan sahabat. Kematiannya menandai akhir era pewaris langsung Ismail Marzuki, tapi warisannya terus hidup melalui cucu-cucunya dan masyarakat Indonesia yang menyanyikan lagu-lagu ayahnya.
Warisan Rachmi tak hanya hak cipta, tapi juga semangat mempertahankan budaya. Sebelum meninggal, dia berhasil memenangkan kasus hak cipta atas modifikasi lagu ayahnya, menjadi preseden bagi seniman lain. Ini mengingatkan kita pada pentingnya melindungi karya nasional di tengah globalisasi. Rachmi, meski hidup sederhana, meninggalkan jejak sebagai penjaga api patriotisme Ismail Marzuki, yang lagu-lagunya masih bergema di upacara negara dan acara budaya.
Akhir hayat Rachmi Aziah mengajak kita merefleksikan nilai warisan keluarga. Di tengah kemajuan teknologi, kisahnya mengingatkan bahwa di balik nama besar, ada manusia dengan cerita nyata. Warisannya abadi, karena setiap kali “Rayuan Pulau Kelapa” dinyanyikan, ada bagian dari Rachmi yang ikut bernyanyi. Semoga generasi selanjutnya terus menjaganya dengan setia.
Kesimpulan
Rachmi Aziah adalah sosok yang mewakili sisi manusiawi dari legenda musik Indonesia. Melalui hidupnya yang sederhana tapi penuh dedikasi, dia menjaga agar karya Ismail Marzuki tetap relevan dan terlindungi. Kisahnya menginspirasi kita untuk menghargai warisan budaya, meski di tengah tantangan modern. Rachmi mungkin telah tiada, tapi semangatnya hidup selamanya dalam nada-nada patriotik yang menyatukan bangsa.
FAQs Tentang Rachmi Aziah
1 Siapa Rachmi Aziah dan bagaimana hubungannya dengan Ismail Marzuki?
Rachmi Aziah adalah anak angkat Ismail Marzuki dan istrinya Eulis Zuraidah. Dia diadopsi saat bayi dari saudara Eulis dan menjadi pewaris tunggal hak cipta karya-karya Ismail setelah ayah angkatnya meninggal.
2 Apa saja tantangan yang dihadapi Rachmi Aziah dalam mengelola warisan ayahnya?
Rachmi sering menghadapi masalah royalti minim dan penipuan dari orang dekat. Dia juga aktif memperjuangkan hak moral, seperti kasus modifikasi lagu “Halo-Halo Bandung” menjadi “Hello Kuala Lumpur” pada 2023.
3 Bagaimana masa kecil Rachmi Aziah bersama Ismail Marzuki?
Masa kecil Rachmi penuh kenangan manis, seperti jalan-jalan ke Pasar Gambir dan Ismail memasak masakan Betawi. Namun, Ismail melarangnya menjadi musisi, dan Rachmi kehilangan ayahnya saat usia delapan tahun.
4 Apa penyebab kematian Rachmi Aziah?
Rachmi Aziah meninggal pada 11 Mei 2025 di rumahnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Penyebab pasti tidak disebutkan secara rinci, tapi dia pernah mengalami serangan jantung pada 2011.
5 Apa warisan terbesar Rachmi Aziah bagi Indonesia?
Warisan terbesarnya adalah dedikasi menjaga integritas karya Ismail Marzuki, termasuk hak cipta atas ratusan lagu patriotik. Ini membantu melestarikan budaya musik nasional untuk generasi mendatang.



