Romy Soekarno: Cucu Bung Karno yang Melangkah dengan Kakinya Sendiri
Nama Romy Soekarno mungkin belum sepopuler para kerabatnya di kancah politik nasional, namun belakangan sosok ini semakin sering muncul di ruang publik. Ia bukan hanya dikenal karena darah Soekarno yang mengalir dalam dirinya, tetapi juga karena upayanya membangun identitas pribadi di tengah bayang-bayang nama besar keluarganya.
Menjadi cucu dari Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia tentu bukan hal yang sederhana. Ada ekspektasi, tanggung jawab moral, hingga tekanan sosial yang tidak ringan. Namun Romy tampaknya memilih jalannya sendiri — dengan gaya yang lebih modern, realistis, dan tidak terlalu terikat pada romantisme masa lalu.
Artikel ini akan membahas perjalanan Romy Soekarno secara lebih mendalam, mulai dari latar belakang dan keluarganya, perjalanan karier serta bisnisnya, hingga kiprahnya di dunia politik. Mari kita lihat bagaimana sosok ini mencoba menerjemahkan warisan besar keluarganya ke dalam tindakan nyata di masa kini.
Latar Belakang dan Akar Keluarga Romy Soekarno
Romy Soekarno lahir dengan nama Hendra Rahtomo pada 4 Januari 1970 di Jakarta. Ia merupakan putra dari Rachmawati Sukarnoputri, salah satu putri Bung Karno, dan sekaligus cucu kandung dari sang Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Dengan garis keturunan seperti itu, wajar jika publik menaruh perhatian khusus terhadap perjalanan hidupnya.
Namun, berbeda dari beberapa anggota keluarga besar Soekarno lainnya yang sejak awal terjun ke politik, Romy justru tidak langsung memilih jalur tersebut. Masa mudanya dihabiskan dengan berbagai aktivitas kreatif dan bisnis. Ia dikenal memiliki semangat eksplorasi tinggi, mencoba berbagai hal di luar “pakem politik keluarga.” Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan tipe orang yang hanya bergantung pada nama besar, melainkan ingin membangun citra independen.
Lingkungan keluarga besar Soekarno tentu sangat memengaruhi cara berpikir Romy. Ia tumbuh dalam atmosfer penuh nilai nasionalisme, keberanian, dan kepemimpinan. Namun di sisi lain, Romy juga melihat bagaimana kerasnya dunia politik Indonesia — sesuatu yang membuatnya mungkin memilih untuk menempuh jalan berbeda sebelum akhirnya kembali ke jalur itu. Dalam dirinya, tampak perpaduan antara idealisme keluarga dan realisme generasi modern yang lebih pragmatis.
Jejak Awal: Dari Dunia Musik hingga Dunia Bisnis

Tidak banyak yang tahu bahwa Romy Soekarno pernah aktif di dunia musik. Pada tahun 1997, ia mendirikan sebuah band bernama 1945MF — nama yang jelas mencerminkan semangat kebangsaan dan kecintaannya terhadap nilai-nilai kemerdekaan. Band ini tidak hanya menjadi wadah ekspresi seni, tetapi juga menunjukkan sisi kreatif Romy yang jarang disorot.
Setelah masa itu, Romy mulai menekuni dunia bisnis. Ia mendirikan dan mengelola beberapa perusahaan, salah satunya bergerak di bidang komoditas dan investasi. Melalui langkah ini, Romy memperlihatkan bahwa ia memahami pentingnya sektor ekonomi dalam membangun kemandirian bangsa — sesuatu yang sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang dulu sering disuarakan kakeknya.
Menjadi pengusaha tentu menuntut kemampuan berpikir strategis, pengambilan keputusan cepat, serta jaringan luas. Dunia bisnis mengasah Romy menjadi sosok yang tangguh dan adaptif. Pengalaman itu kelak menjadi modal penting saat ia mulai masuk ke politik. Karena seperti yang sering dikatakan banyak orang: politik tanpa pemahaman ekonomi sering kali hanya menjadi idealisme kosong tanpa daya dorong nyata.
Kembalinya ke Dunia Politik: Romy Soekarno dan PDI Perjuangan
Sebagai bagian dari keluarga besar Soekarno, keterlibatan Romy dalam politik hampir terasa tak terelakkan. Namun langkahnya masuk ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bukan sekadar mengikuti tradisi keluarga, melainkan keputusan sadar untuk berkontribusi secara nyata di jalur yang sudah dikenal oleh keluarganya.
Pada Pemilu 2024, Romy Soekarno maju sebagai calon legislatif DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur VI, yang meliputi Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Wilayah ini bukan dipilih secara acak — ada kedekatan historis karena Blitar dikenal sebagai kota tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Romy mencoba menghidupkan kembali semangat Sukarnoisme di basis masyarakat yang sangat menghormati sang Proklamator.
Meskipun pada awalnya perolehan suaranya belum cukup untuk langsung melenggang ke Senayan, nasib berkata lain. Dua anggota DPR terpilih dari dapil yang sama kemudian mengundurkan diri, dan akhirnya Romy resmi dilantik menjadi anggota DPR RI pada 1 Oktober 2024. Kehadiran Romy di parlemen menandai babak baru dalam perjalanan hidupnya — dari seorang pengusaha dan seniman, kini menjadi wakil rakyat yang membawa nama besar sekaligus tanggung jawab besar.
Tantangan sebagai Politikus Muda dari Keluarga Legendaris
Menjadi seorang Romy Soekarno berarti membawa beban simbolik yang sangat besar. Publik akan selalu membandingkannya dengan kakeknya, Bung Karno, atau dengan tantenya, Megawati Soekarnoputri. Itu tantangan tersendiri, karena setiap langkah, keputusan, bahkan gaya komunikasinya akan dikaitkan dengan nama keluarga.
Namun di sisi lain, Romy memiliki keunggulan yang tak dimiliki banyak politisi lain: ia lahir dan tumbuh di era transisi. Artinya, ia paham bagaimana menggabungkan nilai perjuangan masa lalu dengan tuntutan realitas masa kini. Dalam berbagai kesempatan, Romy terlihat mencoba menghadirkan gaya politik yang lebih terbuka dan akomodatif terhadap generasi muda.
Tantangan berikutnya tentu adalah pembuktian. Banyak tokoh dari keluarga besar nasionalis yang gagal menunjukkan performa nyata di politik karena terlalu mengandalkan popularitas keluarga. Romy tampaknya memahami hal itu dengan baik. Ia lebih banyak berbicara lewat kerja dan gagasan, bukan sekadar nostalgia. Jika ia berhasil menjaga keseimbangan antara identitas keluarga dan kerja nyata, bukan tidak mungkin Romy akan menjadi figur yang disegani — bukan hanya karena darah Soekarno, tapi karena prestasinya sendiri.
Visi, Gagasan, dan Cita-cita ke Depan
Meski belum banyak mempublikasikan program spesifik, dari sejumlah wawancara dan pernyataan publiknya, Romy Soekarno kerap menekankan pentingnya keseimbangan antara ekonomi nasional dan keadilan sosial. Ia menyoroti bagaimana ekonomi Indonesia seharusnya tidak hanya tumbuh di atas angka-angka statistik, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat bawah.
Romy juga menunjukkan ketertarikan pada isu pemberdayaan anak muda dan dunia kreatif. Dengan latar belakangnya di musik dan bisnis, ia paham bahwa potensi ekonomi kreatif Indonesia sangat besar jika difasilitasi dengan benar. Ia ingin melihat lebih banyak anak muda Indonesia berani berinovasi, mandiri secara finansial, dan tetap cinta tanah air tanpa harus kehilangan gaya modernnya.
Selain itu, Romy tampak ingin mendorong politik yang lebih inklusif — politik yang tidak hanya diisi oleh elit, tetapi juga oleh mereka yang punya ide, visi, dan niat baik. Di sini terlihat bahwa ia membawa semangat demokrasi yang progresif, sesuai dengan cita-cita kakeknya yang selalu berbicara tentang keadilan dan kemerdekaan dalam arti luas.
Refleksi dan Harapan untuk Romy Soekarno
Dalam perjalanan politik Indonesia yang sering kali penuh dinamika, kehadiran figur seperti Romy Soekarno bisa menjadi warna baru. Ia membawa aura sejarah, namun juga menawarkan perspektif segar. Kombinasi antara idealisme keluarga besar Soekarno dan pragmatisme generasi modern bisa menjadi perpaduan menarik jika dieksekusi dengan benar.
Publik tentu berharap agar Romy tidak hanya menjadi simbol penerus, tetapi juga agen pembaharu. Ia diharapkan dapat menyalurkan nilai-nilai nasionalisme yang rasional — bukan hanya pidato, tapi tindakan konkret di lapangan. Apalagi di tengah masyarakat yang semakin kritis terhadap politik dinasti, Romy memiliki kesempatan emas untuk membuktikan bahwa keturunan tokoh besar juga bisa bekerja keras dan berprestasi secara mandiri.
Jika ia berhasil menjaga integritas, fokus pada isu-isu yang relevan, serta membangun komunikasi politik yang dekat dengan rakyat, maka masa depan politik Romy Soekarno masih sangat panjang. Ia bisa menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh idealisme dan masa depan yang penuh peluang.
Penutup: Romy Soekarno dan Makna “Melanjutkan” yang Sebenarnya
Menjadi cucu Bung Karno bukan berarti hanya mewarisi nama, tetapi juga tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan cita-cita bangsa. Romy Soekarno tampaknya memahami hal itu dengan cukup baik. Ia tidak terburu-buru membangun karier politik, melainkan melalui proses panjang yang mengasahnya di berbagai bidang — musik, bisnis, hingga akhirnya politik.
Kini, setelah resmi menjadi anggota DPR, langkah berikutnya adalah pembuktian. Bukan tentang seberapa kuat ia memegang nama Soekarno, tapi seberapa tulus ia bekerja untuk rakyat. Karena pada akhirnya, seperti yang mungkin juga diyakini kakeknya, ukuran sejati seorang pemimpin bukanlah siapa keluarganya, melainkan apa yang ia perjuangkan.
Romy Soekarno sedang berada di awal babak penting perjalanan hidupnya. Dan siapa tahu — dari generasi penerus inilah lahir bab baru tentang bagaimana idealisme Bung Karno menemukan bentuk baru di abad ke-21.



