Ekonomi

Disway: Antara Gaya Menulis yang Menginspirasi dan Fenomena Digital Jurnalistik Indonesia

Apa Itu Disway dan Siapa Sosok di Baliknya?

Kalau kamu sering berselancar di dunia media online Indonesia, kemungkinan besar kamu pernah mendengar nama Disway. Kata ini bukan sekadar singkatan atau istilah teknologi, tapi sebuah platform tulisan yang lahir dari tangan dingin Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN dan CEO Jawa Pos Group. “Dis way” sendiri merupakan singkatan dari Dahlan Iskan’s Way — cara pandang dan gaya berpikir khas Dahlan dalam menulis dan melihat dunia.

Lewat Disway, Dahlan Iskan menumpahkan pikiran, pengalaman, dan refleksi hidupnya setiap hari dalam bentuk tulisan ringan, inspiratif, tapi sarat makna. Tak seperti media konvensional yang penuh berita keras atau sensasi, Dis way hadir dengan gaya personal. Pembaca seolah sedang ngobrol langsung dengan Dahlan — santai, apa adanya, tapi mengandung banyak pelajaran hidup. Itulah mengapa Dis way terasa berbeda dan mudah diterima berbagai kalangan, dari pengusaha, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Di balik kesederhanaan tampilannya, Disway telah tumbuh menjadi fenomena jurnalistik digital. Ribuan pembaca setia menunggu tulisannya setiap pagi, seperti rutinitas minum kopi. Ia tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga wadah refleksi sosial, ekonomi, hingga spiritual. Menariknya, semua tulisan Dis way ditulis oleh Dahlan sendiri — tanpa editor, tanpa sensor, dan tanpa basa-basi. Autentisitas inilah yang menjadikan Disway begitu hidup dan dipercaya.

Gaya Penulisan Disway yang Bikin Ketagihan

Disway

Salah satu daya tarik utama dari Disway adalah gaya menulisnya yang khas dan mengalir. Dahlan Iskan dikenal sebagai penulis yang tidak suka bertele-tele, tapi juga tidak kaku seperti jurnalis berita biasa. Ia menulis seperti berbicara — dengan kalimat pendek, ringan, tapi memikat. Setiap tulisan Dis way seperti mengundang pembaca untuk duduk, mendengarkan cerita, lalu merenung.

Dalam setiap edisinya, Dis way sering membahas berbagai hal: mulai dari politik, ekonomi, olahraga, teknologi, hingga pengalaman pribadi. Tapi alih-alih menyajikan opini berat, Dahlan mengemasnya dengan cerita-cerita sederhana yang relatable. Misalnya, ketika ia menceritakan pengalamannya naik mobil listrik buatan lokal, ia tidak langsung membahas teknologi baterainya, tapi dimulai dengan cerita jalanan, perasaan, dan interaksi manusia di baliknya. Dari situ, pembaca dibawa perlahan pada isu besar — tanpa merasa sedang “digurui”.

Gaya menulis seperti ini mengingatkan pada konsep human interest journalism, di mana manusia menjadi pusat dari setiap kisah. Inilah yang membuat Dis way terasa hangat di tengah derasnya arus berita yang dingin dan datar. Pembaca tidak hanya membaca untuk tahu, tetapi juga untuk merasa dan berpikir. Bahkan, banyak yang mengaku bahwa membaca Disway di pagi hari membuat mereka “lebih semangat bekerja” karena mendapatkan insight baru yang tidak mereka temukan di media lain.

Komunitas Disway: Lebih dari Sekadar Pembaca

Fenomena menarik dari Disway bukan hanya tulisannya, tetapi komunitas pembacanya. Setiap artikel Dis way selalu diikuti oleh ratusan komentar dari pembaca yang aktif berdiskusi. Uniknya, komentar-komentar ini tidak seperti kolom komentar media lain yang penuh ujaran kebencian atau debat kusir. Justru di sini, pembaca saling menanggapi dengan sopan, membangun, dan kadang lucu.

Banyak di antara mereka adalah profesional, akademisi, atau pensiunan yang punya wawasan luas. Mereka menulis tanggapan dengan gaya yang juga khas — singkat, tajam, dan berisi. Bahkan, tidak jarang komentar pembaca justru menjadi inspirasi bagi Dahlan untuk menulis edisi berikutnya. Hubungan dua arah antara penulis dan pembaca inilah yang membuat Disway terasa hidup dan dinamis.

Selain itu, komunitas Dis way juga berkembang di luar dunia digital. Ada yang membuat grup WhatsApp, Telegram, hingga pertemuan rutin antarpembaca. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, bahkan berkolaborasi dalam kegiatan sosial. Dengan kata lain, Disway bukan sekadar media — tapi sudah menjadi gerakan intelektual kecil yang memadukan literasi, empati, dan kolaborasi.

Disway di Era Digital: Ketika Tulisan Mengalahkan Algoritma

Di tengah era media sosial yang serba cepat dan algoritma yang menuntut sensasi, Disway justru mengambil jalur berbeda. Ia tidak mengejar klikbait, tidak memancing emosi, dan tidak mengandalkan iklan besar. Platform ini membuktikan bahwa konten berkualitas masih bisa bertahan di tengah hiruk-pikuk digital.

Menariknya, Disway tidak berusaha menjadi “portal berita besar” seperti Detik, Kompas, atau CNN. Ia justru memosisikan diri sebagai catatan pribadi publik. Pembaca datang bukan karena ingin tahu berita terbaru, tapi karena ingin “mendengar” suara Dahlan Iskan — seorang jurnalis senior yang pernah memimpin kerajaan media besar namun kini memilih jalur personal.

Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam dunia media: bahwa personal branding jurnalis kini bisa mengalahkan kekuatan institusi media itu sendiri. Dahlan membuktikan bahwa kepercayaan dan keaslian lebih penting dari sekadar kecepatan berita. Orang tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi mencari sumber yang mereka percayai.

Tak heran jika Disway tetap punya ribuan pembaca setia meski tanpa promosi masif. Orang datang karena nilai, bukan karena iklan. Mereka ingin mendapatkan sesuatu yang menenangkan, menambah wawasan, dan memberi makna — sesuatu yang mulai langka di dunia digital yang serba gaduh ini.

Nilai-nilai yang Dibawa oleh Disway

Di balik semua tulisan santai itu, Disway sebenarnya membawa pesan moral dan nilai kehidupan yang sangat kuat. Dahlan sering menulis tentang kerja keras, integritas, tanggung jawab, dan kejujuran — nilai-nilai yang ia pegang selama karier panjangnya di dunia bisnis dan media. Namun ia tidak menuliskannya secara menggurui. Semua pesan disampaikan lewat cerita nyata, pengalaman pribadi, atau pengamatan sehari-hari.

Misalnya, ketika ia menulis tentang kegagalannya menjalankan bisnis atau menghadapi penyakit serius, ia tidak berusaha menampilkan diri sebagai sosok sempurna. Justru sebaliknya, ia menunjukkan sisi manusiawi seorang tokoh besar: bahwa jatuh dan bangkit adalah hal biasa. Dari sana, pembaca belajar bahwa kesuksesan sejati bukan soal kekayaan, tapi tentang kemampuan untuk terus belajar dan berbuat baik.

Selain itu, Disway juga menonjolkan optimisme khas Dahlan Iskan. Dalam setiap tulisannya, selalu ada semangat untuk melihat sisi positif, meski situasi sulit. Ia percaya bahwa Indonesia punya banyak potensi dan bahwa setiap orang bisa berkontribusi, sekecil apa pun. Inilah yang membuat Dis way tidak hanya menjadi bacaan pagi, tapi juga sumber inspirasi harian bagi banyak orang.

Kenapa Disway Layak Jadi Teladan Media Digital?

Jika kita melihat lebih dalam, Dis way sebenarnya adalah contoh nyata dari jurnalisme independen yang sehat dan bermartabat. Tanpa dukungan konglomerat media, tanpa tekanan politik, dan tanpa ketergantungan pada algoritma media sosial, Disway berhasil menciptakan ruang baru untuk literasi publik.

Model seperti ini penting di tengah krisis kepercayaan terhadap media arus utama. Banyak media kini terjebak dalam kepentingan bisnis dan politik, sementara Disway tetap berjalan dengan prinsip sederhana: menyampaikan kebenaran lewat cerita nyata. Bahkan, ketika membahas isu sensitif seperti korupsi atau politik, Dahlan tetap menulis dengan nada sejuk — mengajak berpikir, bukan menyerang.

Selain itu, keberhasilan Dis way juga membuktikan bahwa transformasi digital tidak harus berarti kehilangan nilai jurnalistik. Justru sebaliknya, dunia digital bisa menjadi lahan subur bagi mereka yang ingin menulis dengan kejujuran dan ketulusan. Disway adalah bukti bahwa tulisan dengan jiwa manusia masih bisa mengalahkan algoritma dingin mesin pencari.

Masa Depan Disway dan Tantangan yang Menanti

Tentu saja, perjalanan Disway tidak lepas dari tantangan. Di era di mana perhatian publik mudah teralihkan, menjaga konsistensi pembaca bukan hal mudah. Namun justru di sinilah kekuatan Dis way: ia tidak berusaha memuaskan semua orang. Dahlan menulis bukan untuk viral, tapi untuk bermakna.

Ke depan, Dis way berpotensi berkembang lebih luas. Ia bisa bertransformasi menjadi platform kolaboratif, tempat jurnalis muda belajar menulis dengan hati. Atau mungkin menjadi wadah literasi nasional, di mana tulisan-tulisan reflektif bisa bersaing dengan konten hiburan. Yang jelas, selama masih ada pembaca yang mencari makna di balik berita, Disway akan tetap relevan.

Tantangan lainnya adalah regenerasi. Dahlan Iskan kini tidak muda lagi, dan banyak pembaca mulai bertanya-tanya: siapa penerus “Disway”? Mungkin jawabannya tidak harus seseorang, tapi semangat — semangat menulis jujur, berpikir jernih, dan berbagi kebaikan lewat kata. Itulah roh sejati Dis way yang akan terus hidup, bahkan setelah sang penulis berhenti menulis.

Kesimpulan: Disway, Lebih dari Sekadar Tulisan

Disway adalah contoh nyata bahwa satu tulisan bisa mengubah cara orang melihat dunia. Ia bukan portal berita, bukan media hiburan, tapi sebuah ruang refleksi bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk informasi dan merenungkan hidup. Dengan gaya sederhana dan jujur, Dis way berhasil menjembatani intelektualitas dan kehangatan kemanusiaan.

Di tengah zaman serba cepat, Dis way mengajarkan kita untuk melambat sejenak, membaca dengan hati, dan menulis dengan makna. Ia membuktikan bahwa kejujuran masih bisa menjadi kekuatan terbesar dalam dunia digital yang penuh polesan.

Maka, jika kamu mencari bacaan yang ringan tapi mencerahkan, cobalah mampir ke Disway.id. Siapa tahu, kamu tidak hanya menemukan tulisan — tapi juga menemukan kembali dirimu sendiri.

Anda Mungkin Juga Membaca

Jocky Fernando

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button